Monthly Archives: August 2010

~can’t you guess?

~can’t you guess?

To you, the person who changed my life.

Have you ever wondered what it is behind my decision to leave you?

Have you ever asked yourself the reason why I changed my mind?

How come i wanted to stay, then one second later I could not wait to leave?

Have you?


Well, here it is.

It’s you.


Because you made me lie. I never liked that.

Because you made me fight my heart. I was not me anymore.

Because you made me betray trusts. I lost every faith I had on myself.

Because I kept on trusting you, and you kept on disappointing me.

Because slowly, I started to resent you. And I never want to feel that way.

I want us to be just like we used to be.

So forgive me, ‘sorry’ is not enough anymore.

I’m leaving.


aureliasp,

written when she was supposed to do her exam :P

Railroad ~ part I

Railroad ~ part I

He sat on his seat, looking absentmindedly outside the window; to the greenery of countryside flowing past his distant gaze. The railroad seemed to have no end. With each hill, each cloud he passed, the journey appeared to drag on longer and longer.

Just like before.

His thoughts flew to recollect a memory. A timeworn memory. A journey with the same old red train, the same new destination. But another time. Another purpose. Another him.

He sighed, already losing himself in the memory. It was effortless to do so, for the two journeys were similar. Then he sat back and watched as it played right in front of his very eyes.

randomthingies~ kacamata

randomthingies~ kacamata

Zulfiqar Azmi Adhikari – Ari

Aurelia Sadira Putri – Rei

Setting : Rumah nenek Ari, sore hari, di teras belakang rumah, Ari lagi baca buku di sofa, Rei di sebelahnya lagi meluk boneka beruang.

[bosen ngga ada kerjaan] “Ri?”

“Hmm..” [kurang atentif, lagi terlalu larut dalam buku]

“Riiii!”

“Apa sih, Reeeiii?”

“Rei mau nanya dong…”

“Nanya apa?”

“Rei baru nyadar, kok Ari pake kacamata sih? Perasaan waktu cek mata kaiaknya mata Ari normal-normal aja.”

“Kan biar keren.”

“Iiiii, Ariiii!”

“Apa?”

“Yang serius dong!”

“Iyaaaa…”

“……..”

“……..”

“Ariiiii!!!”

“Apa lagi sih?”

“Seriusan nih, kenapa sih pake kacamata??”

“Iyaaaaa, kan biar kereeeennn.”

“….”

“…..”

“Itu serius?”

“Iya. Kan biar keliatan pinter sama berwibawa gitu.”

“Haaaaaaahhhhh??”

101 for Raelin – Prologue

101 for Raelin – Prologue

—Raelin’s POV—

I am running.

I am running from everything that could be called my life. My home. My family. My so-called friends. My throne. My responsibilities. I even left my planet. All for one person. My fiancée. It sounds so romantic, right? Except, not really. It is more for my sanity, actually. Because from the moment I walked out from my father’s study, seething with anger, the good, obedient (not counting the playboy part) Raelin was gone. Instead, the selfish Raelin took over. And he wanted one thing that a prince should not want. The thing that I, as someone with royal blood flew through his veins, would never have.

Freedom.

Many people would say that I am free enough to do things I love. To learn what I want to learn. But the truth whispered a different story. Everything in my life was already set and planned from the time I was born. Well, maybe not when I was crushing on Attis, my fiancée’s MALE knight. Don’t get me wrong. I was straight, still am, but he was dressed up like a girl, and from the point of my twelve-years-old-innocent-brain view, really cute. We made a compromise afterwards, of course. He would forget the *ehm* proposal incident, for the sake of my reputation, and he got something to blackmail me with. And that, is exactly the reason why I am on this journey to find my fiancée instead of having a vacation in somewhere exotic-like Astarte II-. Blackmailed. By my best friend whom I suspect has had a crush on my fiancée since years ago and couldn’t act on it because: one, he is her knight, and two, she has been missing for the past seven years.

My life is too complicated for my own good.

So what if I am a drama prince?!

lessons learned~

lessons learned~

hohooo~ akhirnya ngepost lagi juga :D

udah lama ngga nulis ngetik di blog, jadi sedikit merasa aneh. entahlah.

ngga kerasa Ramadhan udah dateng lagiiii. barengan sama bulan Agustus. berarti udah setaun mamai pake jilbab :D , udah setaun si hape merah ilang dicolong orang di eskalator B*P, dan nyaris setaun si hape abu-abu jadi milik mamai.

buat mamai, Ramadhan kali ini sedikit berbeda. Ramadhan pertama yang mamai lewatin tanpa bareng keluarga..hiks~ taraweh sama buka puasa pertama yang biasanya reserved buat keluarga kali ini harus dijalanin di perantauan (apasih kayak yang jauh aja -___-”). rasanya pengen pengen pengen pulang. tapi apa daya, lagi ujian nyoooo =3= padahal taun-taun sebelomnya, kadang-kadang rasa males muncul pas ngelakuin tradisi-tradisi itu.

semenjak ngekos, mamai kangen banyak hal yang sebenernya biasa banget, kayak ngobrol sambil makan jeruk sama papa di ruang tamu, duduk di atas meja potong ngoprek kain benang dkk. pas mama lagi ngejait, ngejar-ngejar mang bacang pagi-pagi, cerita-cerita sama mang mi ayam, sampe rebutan makanan sama si dede aja mamai kangen. parah banget kan?

well, that taught me not to take things for granted, no matter how small.

ngomong-ngomong soal Ramadhan, mamai mau minta maaf dulu nih. punten mamai banyak salah, sering berulang pula ^.^ oia, mamai punya utang ngga? kalo ada, mohon ditagih. bisi terlupakan~

tentang Ramadhan kali ini, hari pertama puasa aja mamai udah kesentil. kalo bahasa kerennya, mamai lebih sering (keseringan malah) menatap dunia dari sisi negatifnya. bukannya bersyukur mamai masih bisa ketemu Ramadhan lagi, kemaren-kemaren mamai malah pundung-pundung ngga jelas gara-gara ngga bisa buka pertama bareng keluarga. tapi ternyata ada sebuah hal yang bikin mamai sedikit tersentak. i felt soooo foolish and ungrateful~

ceritanya waktu itu lagi naik angkot mau buka bareng sama temen-temen. pas ngelewatin tempat dimana banyak orang jualan tajil tiba-tiba mang supirnya menepi dan nanya-nanya harga es buah ke penjualnya. tadinya beliau mau beli dua bungkus kayaknya, tapi akhirnya beliau belinya sebungkus. apa beliau tadinya berniat beli untuk dibawa pulang buat buka bareng keluarganya? atau beliau udah pasrah ngga bakal sempet buka dirumah dan harus buka sambil cari uang? entahlah. tapi yang jelas kejadian itu bikin mamai bener-bener kesentil.

mungkin ngga bisa sama keluarga, tapi masih ada temen-temen yang mau nemenin buka, kan? bukan cuma mamai doang yang ngerasain, tapi temen-temen juga semuanya gitu. mamai masih bisa buka sama temen, tapi banyak orang yang harus kerja pas buka puasa, atau bahkan ngga tau mau makan apa buat buka. mamai masih bisa teleponan sama mama papa, masih ada temen yang ngebangunin saur. mamai udah dikasih banyaaaaak banget nikmat sama Allah, tapi kenapa mamai masih belom bisa lebih bersyukur lagi??

huff…masih harus banyak belajar buat menghilangkan kemanjaan dan ke-negatif-an mamai nih~