cerita tanpa judul

cerita tanpa judul

Dia selalu ada di sana. Setiap hari. Duduk di bangku pojok ruangan. Sendirian. Tak pernah sekalipun kudengar suaranya. Matanya menatap lurus. Melihat, mengamati, namun kosong. Tak pernah kulihat percikan-percikan emosi di dalamnya. Menarik. Tak biasa, namun menarik, entah mengapa. Seakan ‘warna’-nya berbeda dengan dunia sekitarnya. Tak pernah lebur dengan suasana yang tercipta.
Ada masanya aku berbalik di kursiku, memperhatikan sosoknya yang -layaknya sebuah patung-, tak bergeming sedikit pun. Terkadang suara kecil di kepalaku mengusulkan bahwa ia tak nyata, bahwa ia hanya ada dalam imajinasiku semata. Namun, eksistensi namanya di dalam daftar absen menghapus keraguanku.
Sebuah nama yang nyaris selalu menghantuiku. Selalu terbayang di saat yang tidak terduga. Hingga saat waktu berlalu, aku tak heran lagi saat ia muncul begitu saja di benakku. Apa ini obsesi? Mungkin…

*o*

Suatu hari kudengar ia bersenandung. Sayup-sayup. Seperti siulan. Tak dapat kumengerti kata-katanya. Desah lembut yang mengiringi nada-nada yang indah. Terdengar begitu halus. Penuh dengan emosi. Tak dapat kulupakan. Terus terngiang di telingaku.
Apa yang terjadi? Mengapa setelah sekian lama terdiam, kini ia memiliki senandungnya sendiri? Mengapa setelah sekian lama bungkam, kini ia membuka mulutnya? Entahlah. Aku tak tahu. Bukan urusanku.

*o*

Sayup, kukira ia memanggil namaku. Deretan huruf yang terdengar indah saat ia mengucapkannya. Sebuah bisikan yang membuat bulu kudukku berdiri. Namun saat aku berbalik, ia tak menunggu. Ia ada di sana, bungkam dan tajam, seperti biasanya. Seolah tak terjadi apapun. Dan mungkin memang tidak. Pasti tidak.

*o*

Aku bisa merasakannya. Tajam tatapan matanya menusuk punggungku. Aku tahu itu dia. Mengapa? Apa salahku? Terganggu dan gugup, aku merasa bagaikan kelinci percobaan yang sedang diteliti.
Seiring waktu tubuhku semakin kaku, mempertimbangkan. Tercabik antara diam dan bergerak. Aku takut. Takut akan apa yang mungkin kutemukan.
Rasa ingin tahuku menang. Sedikit kutolehkan kepalaku. Dari sudut mataku, kulirik dia. Matanya menatap, gelap. Terpusat padaku. Namun sedetik kemudian pandangannya beralih, menyusuri setiap sudut ruangan dengan seksama.
Aku menghela napasku. Lega. Ataukah kecewa? Merasa sedikit konyol. Dan tertipu. Ya, tertipu. Entahlah.
Tentu saja, pasti hanya perasaanku saja. Benar kan?

Sensasi itu dimulai lagi.

*o*

 

kalimat-kalimat aneh yang tadinya mmai buat untuk menghindari deadline-nya drama b.indo jaman dahulu kala~

2 Responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s